Edukasi Mengenai Dampak Buruk Polusi Partikulat Matter (PM) 2,5 Terhadap Gangguan Kognitif pada Siswa Sekolah SMK Kesehatan Bhakti Insani
DOI:
https://doi.org/10.70608/thm8wf06Keywords:
Edukasi, Kesehatan, Bahaya, Siswa, Partikulat MatterAbstract
Partikulat Matter (PM) dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer, yang dikenal sebagai PM 2,5, merupakan salah satu bentuk pencemar udara yang memiliki urgensi besar dalam konteks kesehatan dan lingkungan. PM 2,5 menjadi ancaman utama terhadap kesehatan masyarakat Indonesia. Tingginya tingkat pencemaran udara di berbagai wilayah, terutama di perkotaan yang padat penduduk, meningkatkan risiko terjadinya gangguan pernapasan, penyakit paru-paru, penyakit jantung, dan bahkan kematian dini. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan kondisi kesehatan yang sudah ada lebih rentan terhadap dampak negatif dari PM 2,5. Metode kegiatan yang dilakukan meliputi tahap pra kegiatan melibatkan review literatur dan kerjasama dengan pihak sekolah untuk merancang materi edukasi yang relevan. Program melibatkan kegiatan seminar edukasi dan konsultasi interaktif di kelas-kelas, didukung oleh distribusi materi edukasi seperti brosur dan bacaan informatif. Evaluasi dilakukan melalui penggunaan kuisioner sebelum dan setelah program, menunjukkan peningkatan pemahaman siswa secara statistik signifikan. Hasil ini menggambarkan keberhasilan program dalam mencapai tujuannya, menciptakan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya PM 2,5. Program ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga merangsang kesadaran lingkungan yang lebih tinggi di kalangan siswa, membentuk dasar untuk perubahan perilaku positif terkait isu lingkungan. Kesimpulan menunjukkan bahwa program pengabdian masyarakat ini memiliki potensi untuk menciptakan efek jangka panjang dalam membentuk generasi yang lebih peduli terhadap masalah-masalah lingkungan di masa depan.
Downloads
References
[1] A. Y. T. Panuju and M. Usman, “PM2.5 Concentration Pattern in ASEAN Countries Based on Population Density,” Procedia of Engineering and Life Science, vol. 4, 2023.
[2] W. L. Kusuma, W. Chih-Da, Z. Yu-Ting, H. H. Hapsari, and J. L. Muhamad, “PM2.5 pollutant in Asia—a comparison of metropolis cities in Indonesia and Taiwan,” International Journal of Environmental Research and Public Health, vol. 16, no. 24, p. 4924, 2019.
[3] A. U. Abidin, F. B. Maziya, S. H. Susetyo, M. Yoneda, and Y. Matsui, “Exposure particulate matter (PM2.5) and health risk assessment on informal workers in landfill site, Indonesia,” Environmental Challenges, vol. 13, p. 100795, 2023.
[4] Z. Cheng, L. Guo, M. Tani, and S. Cook, “Air Pollution and Education Investment,” 2023.
[5] L. Pham and T. Roach, “Particulate pollution and learning,” Economics of Education Review, vol. 92, p. 102344, 2023.
[6] Z. Yuhe, Y. Guangfei, and L. Xianneng, “Indoor PM2.5 concentrations and students’ behavior in primary school classrooms,” Journal of Cleaner Production, vol. 318, p. 128460, 2021.
[7] S. Siregar, N. Idiawati, P. Lestari, A. K. Berekute, W.-C. Pan, and K.-P. Yu, “Chemical composition, source appointment and health risk of PM2.5 and PM2.5–10 during forest and peatland fires in Riau, Indonesia,” Aerosol and Air Quality Research, vol. 22, no. 9, p. 220015, 2022.
[8] I. M. Ihsan, R. Oktivia, R. Anjani, and N. F. Zahroh, “Health risk assessment of PM2.5 and PM10 in KST BJ Habibie, South Tangerang, Indonesia,” in IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, IOP Publishing, 2023, p. 12033.
[9] W. N. Salsabila, “Analisis Perkembangan Penanggulangan Pencemaran Udara yang Disebabkan oleh Bahan Bakar Fosil,” Jurnal Pendidikan, Sains dan Teknologi, vol. 2, no. 4, pp. 1010–1014, 2023.
[10] S. J. Mbazima, “Health risk assessment of particulate matter 2.5 in an academic metallurgy workshop,” Indoor Air, vol. 32, no. 9, p. e13111, 2022.
[11] B. F. A. De Oliveira, E. Ignotti, P. Artaxo, P. H. do Nascimento Saldiva, W. L. Junger, and S. Hacon, “Risk assessment of PM2.5 to child residents in Brazilian Amazon region with biofuel production,” Environmental Health, vol. 11, no. 1, pp. 1–11, 2012.
[12] K. Aziz, Z. Ali, Z. A. Nasir, and I. Colbeck, “Assessment of airborne particulate matter (PM2.5) in university classrooms of varrying occupancy,” Journal of Animal and Plant Sciences, vol. 25, no. 3, pp. 649–655, 2015.
[13] C.-C. Tseng, H.-Y. Chen, G.-L. Yeh, J.-J. Huang, and L.-J. Shi, “A Questionnaire Survey on Knowledge, Attitude, Environmental Sensitivity, Self-Efficacy, and Preventive Behavioral Intention of Fine Particulate Matters for Junior High School Students in Taiwan,” in Advances in Global Education and Research (book series), p. 75, 2019.
[14] H. Shi, S. Wang, and S. Guo, “Predicting the impacts of psychological factors and policy factors on individual’s PM2.5 reduction behavior: An empirical study in China,” Journal of Cleaner Production, vol. 241, p. 118416, 2019.
[15] L. Bai, Z. He, C. Li, and Z. Chen, “Investigation of yearly indoor/outdoor PM2.5 levels in the perspectives of health impacts and air pollution control: Case study in Changchun, in the northeast of China,” Sustainable Cities and Society, vol. 53, p. 101871, 2020.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Alhara Yuwanda, Anugerah Budipratama Adina, Eddy Yusuf (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


