Penyuluhan Edukasi Pemanis Buatan untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas IX-I di SMP PGRI 1 Cibinong
DOI:
https://doi.org/10.70608/vy878y03Keywords:
Penyuluhan, Pemanis Buatan, Literasi Pangan, Siswa SMP, ADIAbstract
Meningkatnya konsumsi makanan dan minuman manis pada remaja, disertai paparan informasi yang tidak akurat di media sosial, memicu terbentuknya persepsi keliru mengenai keamanan pemanis buatan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi pangan siswa terkait pemanis buatan, meluruskan mitos yang berkembang, serta memperkuat pemahaman mengenai batas aman konsumsi berdasarkan konsep Acceptable Daily Intake (ADI). Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada 20 Oktober 2023 di kelas IX-I SMP PGRI 1 Cibinong melalui metode penyuluhan menggunakan media PowerPoint, diskusi interaktif, tanya jawab, serta mini games “Fakta atau Mitos” dan “Tebak Label Pangan.” Evaluasi dilakukan melalui observasi partisipasi dan post-test yang dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan peningkatan partisipasi aktif dan perubahan persepsi siswa dari pandangan bahwa pemanis buatan berbahaya menjadi pemahaman bahwa pemanis aman dikonsumsi selama tidak melebihi batas ADI. Peningkatan ketepatan jawaban pada putaran kedua mini games menunjukkan materi terserap dengan baik dan siswa lebih mampu membedakan fakta ilmiah dari misinformasi. Secara keseluruhan, pendekatan edukatif yang interaktif dan berbasis bukti efektif dalam meningkatkan literasi pangan serta kemampuan berpikir kritis siswa. Ke depan, literasi keamanan pangan perlu diperkuat secara berkelanjutan melalui program rutin di sekolah agar siswa menjadi konsumen yang cerdas dan lebih kritis terhadap informasi kesehatan dari media sosial.
Downloads
References
[1] F. Fleming-Milici and J. L. Harris, “Adolescents’ engagement with unhealthy food and beverage brands on social media,” Appetite, vol. 146, p. 104501, 2020.
[2] M. S. Zubair, Y. Yuyun, S. Maulana, W. O. S. Musnina, S. Wardhani, and N. Nurhaliza, “Edukasi Keamanan Pangan Dan Bahan Tambahan Pangan pada Siswa SMAN 5 Palu,” J. Abdi dan Dedik. Kpd. Masy. Indones., vol. 4, no. 1, pp. 31–40, 2026.
[3] W. Guideline, “Use of non-sugar sweeteners: WHO guideline,” World Health Organisation (WHO), 2023.
[4] S. Lohner, D. K. de Gaudry, I. Toews, T. Ferenci, and J. J. Meerpohl, “Non‐nutritive sweeteners for diabetes mellitus,” Cochrane database Syst. Rev., no. 5, 2020.
[5] S. M. Praveena, M. S. Cheema, and H.-R. Guo, “Non-nutritive artificial sweeteners as an emerging contaminant in environment: A global review and risks perspectives,” Ecotoxicol. Environ. Saf., vol. 170, pp. 699–707, 2019.
[6] M. U. I. S. Sinaga, W. P. Rahayu, and Y. K. Latifa, “Preferensi Siswa Sekolah Menengah Atas terhadap Pencarian Informasi Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah di Jakarta,” J. Mutu Pangan Indones. J. Food Qual., vol. 7, no. 1, pp. 14–20, 2020.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Debi Desiyan Ayu, Atifah Hanna Velomena, Isra Maulida Arifa, Anna Uswatun Hasanah Rochjana, Szalszabilla Rahayu (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


